Senin, 24 September 2012

"KAMI", Sebagai Kata Ganti ALLAH, Di Dalam Al-Qur'an



* Di dalam Al-Qur'an, Allah menggunakan kata "Ka
mi" dan "Aku" sebagai kata ganti orang pertama yang mengacu kepada Allah sendiri. 
Mungkin ada dari kita yang bertanya-tanya, atau mungkin pernah kita mendengar orang mempertanyakan, "Mengapa Allah menggunakan kata 'Kami' yang berarti jamak atau lebih dari satu?"

Bahkan mngkin ada yang mngatakan, "Berarti itu menunjukkan bahwa Tuhan itu ada lebih dari satu".
Na'udzubillahiminzalik.

Jawaban yang paling populer adalah, "Ketika Allah menggunakan kata 'Kami', berarti pada saat itu Allah melibatkan pihak lain, contohnya melibatkan malaikat Jibril. Dan jika menggunakan kata 'Aku' berarti dalam aktivitasnya merupakan hak prerogatif Allah".

* Akan tetapi, bagaimana dengan surah Al-Baqarah ayat 34 yang berbunyi : "dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat ..."

Atau di surah Al-Baqarah ayat 52 yang mengatakan : "Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu brsyukur".
Apakah "Kami" disini berarti Allah dan malaikat Jibril?
Apakah malakat Jibril yang "berfirman" ?
Apakah malaikat Jibril yang "memaafkan" selayaknya hak Allah?

Kalau bukan, Allah dengan siapakah "Kami" dalam konteks ayat-ayat ini?
Mengapa terkadang Allah menggunakan kata "Ayaatiina (ayat-ayat Kami)" dan terkadang pula Ayaati (Ayat-ayat Ku)"?

* Melihat kembali kepada sejarah, sepatutnya kita bertanya, "Apakah ada riwayat yang menceritakan bahwa ada mempertanyakan mengapa Allah menggunakan kata 'Kami', seperti ketika Allah mengatakan Ayaatina (ayat-ayat Kami), bukannya Ayaati (Ayat-ayat Ku) ?

Penulis sendiri (sumber catatan ini) belum menemukan ada riwayat sahih yg menceritakan demikian.
Di jaman Rasulullah memang para sahabat memegang prinsip sami'na wa atho'na (kami mndengar dan kami taat).
Akan tetapi, bukan berarti mereka tidak pernah bertanya.
Sangat banyak riwayat hadist yang menceritakan bagaimana sahabat mempertanyakan atau meminta penjelasan mengenai sesuatu.

Jadi, mengapa tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa sahabat mempertanyakan mengapa Allah menggunakan kata "Kami" yang berarti jamak?

Sedangkan hal ini berhubungan dengan akidah tauhid yang diperjuangkan oleh Rasulullah, sebagaimana yg diperjuangkan nabi-nabi terdahulu, bahwa Allah itu Ahad, satu, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
Tidak ada yang serupa maupun yang mampu menandingi-Nya. Maha Suci Allah.

* Jika ada seseorang mengatakan "Tuhan itu satu, hanya ada satu Tuhan" kepada sekelompok masyarakat yang memiliki Tuhan lebih dari satu, kemudian dia mengemukakan ayat, dimana ayat tersebut menggunakan kata "Kami" yg mengacu kepada Tuhan, tidakkah hal tersebut akan menjadi pertanyaan, baik bagi pendengarnya saat itu yang sedang berusaha memahami suatu kebenaran maupun bagi orang-orang yang sengaja mendengar supaya bisa mengajukan kesalahan didalam Al Qur'an atau keyakinan umat Islam?

"Kau mengatakan Tuhan itu satu, tapi kau bilang pada saat Tuhan berkata, Dia mnggunakan kata Kami ..."

Jawabannya cukup sederhana, yaitu :
Karena tidak ada satupun orang pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menganggap kata "Kami" di dalam Al Qur'an mengacu kepada Allah sebagai sesuatu yang jamak.

*Di beberapa bahasa di dunia, khususnya bahasa semit dan turunannya (misalnya Ibrani, Arab, dan Urdu) adalah biasa menggunakan bentuk jamak utk mengacu kepada sesuatu yang tunggal, sebagai bentuk penghargaan, penghormatan atau pengagungan.

Contohnya, di dalam Alkitab, kitab "Kejadian (bereshit)" yang merupakan kitab pertama dalam Alkitab (salah satu dari lima kitab yang dianggap sebagai Torah atau Taurat), yang merupakan kitab suci orang-orang Yahudi dan Kristen, ayat pertama pasal kesatu-nya brbunyi :
"Bereshit bara Elohim et hashamayim ve'et ha'arets
(Pada mulanya Allah mnciptakan langit dan bumi).

Dalam bahasa Ibrani, untuk menandakan bentuk jamak, ditambahkan kata "-im" di belakang kata benda.
Bahasa Ibrani untuk "Tuhan" adalah "Eloh" atau "Elah".
Elohim berarti "banyak tuhan".
Tetapi tanyakan kepada setiap orang Yahudi, apakah "Elohim" berarti "banyak tuhan"?


Tentu saja mereka akan menjawab "Tidak".
Tidak ada satupun Alkitab dari ribuan terjemahan di seluruh dunia yg menterjemahkan Elohim sebagai "Tuhan-Tuhan" atau "Gods".

Atau ketika di ayat ke-26 pasal ke-satu kitab Kejadian yg mengatakan "Vayomer Elohim (jamak) na'aseh (jamak) adam betsalmenu (jamak)...
Yan artinya : Tuhan berfirman, "Marilah Kita membuat (na'aseh) manusia (adam) mnurut gambar Kita (betsalmenu) ...

Tanyakan ke setiap orang Yahudi apakah ayat ke -26 pasal kesatu kitab kejadian ini menyatakan bahwa Tuhan itu lebih dari satu?
Besar kemungkinan dengan tegas mereka akan mengatakan "Tidak".
(Kita mungkin akan memperoleh jawaban yang berbeda jika yang kita tanya adalah orang Kristen, akan tetapi tentu saja Perjanjian Lama hadir dan tumbuh dalam bahasa dan tradisi Yahudi, jauh sbelum Kristen muncul).

Tanya kenapa.
Padahal kesemuanya menggunakan bentuk jamak.
Jwbannya, karena itu merupakan bentuk pengagungan, pemuliaan Tuhan kepada diri-Nya.

* Sudah suatu hal yang lazim dalam bahasa Ibrani maupun Arab untuk menggunakan sesuatu yang jamak pada bentuk tunggal untuk menghormati bentuk tunggal tersebut..

Jadi, penggunaan kata "Kami" dalam Al-Qur'an tidaklah brarti bahwa Allah itu lebih dari satu, akan tetapi lebih kepada bentuk bahasa.
Di Indonesia, dimana Majestic Plural ini tidak (atau jarang) digunakan, hal ini wajar mnjadi prtanyaan, maka kita harus kembalikan kepada bahasa aslinya.
Apalagi dalam bahasa Al-Qur'an, penggunaan "Kami" sebagai kata ganti Allah adalah tidak langsung sebagai subjek.

* Sekali lagi, sebagai bentuk plural orang pertama :
Ketika Allah berkata "Kami brfirman", bahasa arabnya adalah "Qulnaa" yang secara harfiah berarti "berkata kami" dan tidak dihitung sebagai dua kata, melainkan satu kata kerja (bentuk tunggalnya adalah "Qultu").
Struktur seperti ini tidak sama dengan yang ada di Indonesia, dan di masyarakat Timur Tengah, struktur seperti ini sering dimanfaatkan sebagai Majestic Plural.
Walaupun, saya sendiri ingatnya bahwa orang-orang jaman dulu (almarhumah nenek saya juga menyebut dirinya) sebagai "Kami..." dan bukan "Saya" atau "Aku...", hingga sekitar tahun 1990-an, untuk bersopan santun.
Maha Besar Allah, Yang tidak memerlukan sesuatu pun dari ciptaan-Nya, melainkan ciptaan-Nya-lah yang memerlukan Ia.

* Jadi, mengapa Allah kadang-kadang menggunakan kata "Kami" kadang-kadang menggunakan kata "Aku"?

Ketika Allah menggunakan kata "Kami", pada saat itu Allah sedang menunjukkan Kebesaran, Keagungan, dan ke-Maha-an-Nya.
Sehingga kata-kata "Kami" banyak digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan seperti penciptaan alam semesta, atau ketika Allah mengatakan mengenai ayat-ayat (tanda-tanda)-Nya yang berada di alam semesta.
Atau ketika Allah mengatakan "Kami maafkan", saat itu Allah sedang mengagungkan Diri-Nya sebagai Yang Maha Pema'af.

Dan ketika Allah menggunakan kata "Aku", Allah sedang menegaskan ke-Tunggal-an-Nya, bahwa hanya Dia, keunikan-Nya.
Jadi ketika Allah mengatakan "ayaati (ayat-ayat-Ku) di beberapa tempat dalam Al-Qur'an, bukannya "ayaatiina (ayat-ayat Kami)" sebagaimana yang digunakan di banyak tempat yang lainnya dalam Al-Qur'an, Allah ingin menegaskan bahwa semua tanda-tanda, semua ayat-ayat itu adalah milik-Nya semata.
Juga ketika mengisahkan mengenai kutipan percakapan Allah dgn nabi-nabi terdahulu seperti Musa as dan Ibrahim as, kata "Aku" juga banyak digunakan.

Wallahu ta'ala a'lam
bishshowab.



sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=375553999192271&set=a.100486180032389.775.100002130211084&type=3
(Catatan di Koleksi Wallphotos akh Ronny Bangkit Pasai, jazakallah khoir)